Menjadi praktisi usaha di bagian kecerdasan bikinan atau artificial intelligence (AI), saya biasa berjumpa dengan dua type orang: optimistis serta pesimis.
Beberapa optimistis meyakini akan kekuatan AI sepenuh hati. Mereka yakin tehnologi itu bisa pecahkan bermacam permasalahan bisnis—bahkan permasalahan kelaparan serta perdamaian dunia! Di lainnya pihak, beberapa pesimis (termasuk juga entrepreneur populer seperti Elon Musk) berkeyakinan teguh jika satu waktu umat manusia akan dikuasai oleh robot.
Seperti yang mungkin dapat kamu pikirkan, inti AI sebetulnya ada diantara dua pandangan berlebihan itu.
AI miliki kekuatan mengagumkan untuk menggebrak mode usaha lama. Tetapi, demam AI yang tengah ada di puncaknya sekarang ini membuat beberapa orang miliki harapan terlalu berlebih.
Sebenarnya, menjadi praktisi usaha yang bertanggungjawab meningkatkan taktik berkaitan AI untuk kelompok perusahaan, saya seringkali kesusahan memperbedakan pada faedah riil serta keinginan semu. Saya sendiri sudah ambil keputusan-keputusan salah waktu tekuni bagian AI dan mendapatkan beberapa pelajaran pahit.
1. Manakah buktinya?
Beberapa tenaga penjualan dari perusahaan AI miliki tehnik hampir prima dalam tawarkan tehnologi semasing. Kamu akan disodorkan beberapa ide mempesona yang mereka ucap menjadi “kesempatan sekali seumur hidup”. Penawaran itu ikut dibungkus dalam presentasi PowerPoint kinclong serta dihiasi deretan rincian client mengagumkan.Jika kamu melawan perihal ini, saya duga tidak jadi masalah jika jadi sinis.
Untuk tahu apa betul-betul ada faedah yang dapat kamu temukan, kamu butuh memahami algoritme machine learning yang mereka menawarkan, contohnya lewat cara:
- Meminta mereka menyertakan hasil riset yang sudah melalui proses penelaahan sejawat untuk memberi dukungan klaimnya.
- Kerjakan tes, tekuni potensi AI itu dalam lingkungan hanya terbatas yang kamu tetapkan sendiri.
- Lakukan eksperimen awal serta cek dari hasil ide AI yang dijelaskan itu.
Proses kontrol ini akan panjang, memerlukan banyaknya waktu serta sumber daya. Tetapi, akhirnya bisa menjadi landasan yang kuat dan mengamankan uang kamu di hari esok.
2. Apa kita dapat mengukur nilai imbuhnya?
Untuk membuat nilai lebih, kamu butuh membuat produk/ layananmu bertambah baik, cepat, atau murah. Sesederhana itu! Dapatkan nilai lebih sebenarnya dari AI untukmu.Coba kalkulasi arus kas dari investasi untuk AI itu serta temukan kesepakatan dari semua pemangku kebutuhan atas asumsi-asumsi yang kamu pakai.
Jangan pernah menyesal sebab tidak pastikan jika semua anggapan itu sudah betul-betul sama dengan mode usaha yang kamu miliki. Ingat, memutuskan salah itu lumrah, tetapi kamu mesti bertanggungjawab tidak untuk mengulang kesalahan.
3. Bagaimana konsumen setia mendapatkan faedah dari AI?
AI dapat tingkatkan potensi usaha, tetapi apa konsumen setia kamu akan rasakan faedahnya?Pemakaian AI dapat membantumu mengidentifikasi proses-proses usaha yang butuh ditingkatkan, mencari sentimen pasar, dan bangun kesetiaan konsumen setia untuk periode panjang.
Tiada koneksi yang kuat dengan pengalaman beberapa konsumen setia, faedah AI akan terkurung di segi tehnologi semata-mata, dan susah disamakan dengan arah usaha perusahaan.
Ukurlah efek dari pemakaian AI dengan memakai beberapa metrik pengalaman konsumen setia, seperti tingkat mengajukan protes, net promoter skor (NPS), atau score kenikmatan konsumen setia. Pengukuran-pengukuran ini akan menolong kamu memandang efek sebenarnya dari implementasi AI pada beberapa konsumen setia.
4. Apakah saya dapat menerapkannya?
Pada akhirnya kamu siap meluncur! Gunakan ide segitiga emas yang meliputi sdm (SDM), proses, serta tehnologi untuk tahu apa kamu siap menerapkannya.Suatu visi tanpa implementasi hanyalah halusinasi.
Segi yang pertama kamu butuh perhatikan ialah SDM. Mempekerjakan tenaga pakar di bagian AI dapat memberikanmu faedah demikian besar. Akan tetapi, beberapa pakar itu umumnya telah diambil atau tengah dicari oleh FANG (Facebook, Amazon, Netflix, Google). Kejadian ini membuat perusahaan tidak hanya ke empat raksasa itu mesti bangun SDM sendiri.
Turut masukkan SDM internal pada kursus mengenai data science serta machine learning. Lantas, rancang proses mendalam untuk memperoleh kesepakatan beberapa pejabat perusahaan, buat budaya perusahaan yang berdasarkan pengembangan, serta susun kebijaksanaan berkaitan AI.
Tehnologi berkembang begitu cepat, jadi kamu butuh memberikan sikap untuk memandang ke hari esok. Pakai big data frame-work serta machine learning, hingga kamu dapat membuat serta menerapkan produk yang sudah terintegrasi dengan AI.
5. Apa ini waktu yang pas?
Walau kamu menjelaskan “ya” dengan mantap untuk semua pertanyaan awal mulanya, terkadang susah untuk memastikan apa saat ini ialah waktu yang pas untuk menerapkan AI dalam perusahaanmu. Ini pendapat simpel saya untuk menolong kamu memutuskan:Bila AI dapat tingkatkan potensi pokok perusahaan kamu, dan menolong meningkatkan kelebihan bersaing periode panjang, jadi selekasnya gunakan AI saat ini juga.
Jika AI tidak dapat memberikan efek besar pada potensi usaha milikmu, jadi timbal balik dari implementasi AI yang akan kamu kerjakan mungkin tidak akan sebanding. Pada beberapa kasus semacam ini, mungkin lebih bijak untuk meredam diri supaya tidak terjangkit demam AI, dan menanti sampai tehnologi itu jadi cukuplah htangguh serta diadopsi dengan luas.
Mudah-mudahan dengan menjawab lima pertanyaan diatas, kamu jadi tidak gampang terbujuk pesona “benda yang baru muncul” dan miliki pegangan dalam mengambil keputusan jalan peningkatan AI yang inovatif untuk memberikan faedah pada usaha milikmu.
Apakah kamu miliki pertanyaan lainnya yang dapat meningkatkan deretan rincian diatas? Janganlah sangsi untuk menuliskan pada kotak kometar dibawah supaya kita dapat berdiskusi!



0 Comments