Bagaimana Belajar Coding Merubah Langkah Saya Berfikir Menjadi Founder Startup


Tahun kemarin, saya akan memutuskan untuk membangun Seek Sophie, satu basis perjalanan online. Baik saya ataupun co-founder saya, tidak mempunyai latar belakang tehnis. Karenanya, saya akan memutuskan untuk mulai belajar coding supaya bisa bangun basis dari 0. Saat itu, saya bahkan juga tidak tahu ketidaksamaan pada web dari WordPress dengan yang dibuat dari pertama.

Seseorang rekan menjelaskan aksi saya ini aneh. Menjadi seorang yang baru pertama-tama membangun startup, saya sebetulnya tengah bertemu dengan demikian beberapa hal yang asing, tetapi saya justru pilih menekuni perihal asing yang lain kembali. Kenapa saya tidak konsentrasi saja dengan ruang yang saya kuasai (seperti usaha/bagian korporasi yang lain)?


Saat beberapa waktu pertama, sangatlah jelas jika founder dari usaha startup seharusnya mengerti dasar usaha.

Saya selalu bertanya perihal ini pada diri pribadi: Bila saya mengawali usaha hotel, saya tidak terasa butuh pelajari pengetahuan tehnik sipil. Tetapi mengapa saya terasa perlu belajar coding untuk usaha online saya?

Lima bulan sesudah saya belajar coding, kami meluncurkan seeksophie.com. Saat proses peningkatan situs ini, saya temukan jawabannya.

1. Ini tidak cuma mengenai coding, tetapi mengenai langkah berfikir


Di hari pertama coding bootcamp yang saya ikuti, pelatih kami menjelaskan jika mereka sedang tidak mengajari kami coding, tetapi langkah berfikir. Saya senang beberapa kata itu, walau saya masih tetap skeptis. Selang beberapa saat, saya mengerti jika dunia coding begitu berlainan dengan apa pun yang saya kenali awal mulanya.

Saat saat-saat saya bersekolah serta bangun karir di bagian hukum, kami konsentrasi untuk temukan jawaban yang benar. Sebab terdapatnya jawaban yang benar, jadi ada juga jawaban yang salah. Dengan kerangka berfikir semacam itu, terciptalah karakter perfeksionis serta perasaan malu seumpama kami tidak mendapatkan jawaban yang benar.

Dunia coding begitu berlainan. Sebab tiap-tiap orang memiliki basic pemrograman yang berlainan, suatu yang berperan di kode seorang belumlah pasti dapat berperan di kode orang yang lain. Jadi, tidak ada satu jawaban benar yang mutlak, tetapi beberapa jawaban yang benar untuk setiap basis kode semasing.

Lalu, ada juga yang dimaksud dengan bug, yang sifatnya integral dengan proses. Debugging sendiri adalah ketrampilan terpenting buat seseorang developer.

Saat kedatangan bug dipandang seperti satu perihal yang alami menjadi sisi dari proses—penerimaan ini akan menghilangkan ketakutan akan bug—atau kegagalan. Konsentrasi usaha akan diarahkan untuk lakukan penyidikan untuk debugging, dibanding terpaku pada perasaan malu karena kegagalan.

Saat saya bangun lagi web supaya sama dengan tujuan pasar, saya tidak terpaku pada satu jalan keluar prima, juga tidak terasa terpukul bila ada skema yang tidak berjalan dengan baik. Saya lihat keseluruhnya proses menjadi pekerjaan ala detektif. Bila feature baru ini tidak dapat meningkatkan tingkat konversi, saya cuma butuh temukan langkah yang lain.

2. Produk yang sukses tergantung pada kualitas dari bahan-bahannya

Saat bangun satu produk, terdapat beberapa ketetapan mikro yang perlu diambil (bagaimana arsitektur info dibuat, pilih API dari pihak ke-3 yang akan dipakai, langkah mengendalikan ingatan aplikasi, serta yang lain). Keputusan-keputusan kecil ini lah yang memastikan apa visi satu usaha akan terwujud dalam periode waktu pendek atau menengah.

Salah satunya contoh simpel ialah ketetapan mengenai penyedia pembayaran backend yang perlu saya integrasikan ke situs. Pilihan kami waktu itu pada Braintree serta Stripe. Bila saya tidak miliki pengetahuan mengenai coding, saya akan tidak mengecheck kembali dokumentasi developer serta pelajari perbedaan-perbedaan kecil pada Braintree serta Stripe.

Saat saya memerhatikan dengan cermat, saya pada akhirnya akan memutuskan jika Stripe lebih sesuai dengan arah periode panjang serta lebih gampang untuk dijaga. Skema ini pula sangat mungkin kami untuk menyatukan Alipay serta WeChat Pay, langkah pembayaran yang lebih disenangi oleh customer dari Cina yang jadi tujuan pasar kami.

Demikian juga, bila saya tidak mengecheck kembali dokumentasi developer, saya mungkin cuma akan bertanya beberapa hal yang ada di permukaan saja.

Saya mungkin akan tidak menanyakan mengenai cost pengurungan, berapakah lama waktu yang diperlukan sampai uang datang di rekening bank, kapan saya mesti menagih konsumen setia, serta bagaimana interval waktu itu memengaruhi penghasilan kami.

Saat saya mengerti jika pengurungan pembayaran lewat Stripe mengonsumsi cost, saya merubah usaha mode untuk ambil pembayaran sesudah periode pengurungan tuntas.

Tentunya, pengetahuan ini tidak termasuk juga dalam ketrampilan coding yang spesifik. Bila seorang ingin memahami dokumentasi produk untuk mengerti efek dari satu ketetapan berkaitan produk, mereka bisa lakukan itu tanpa atau dengan potensi coding. Akan tetapi, berapa kemungkinan besar founder tiada pengetahuan tehnis akan lakukan itu?

3. Saat beberapa pemakai minta suatu, kita akan langsung mengabulkannya

Sesudah kami meluncurkan Seek Sophie, kami bicara dengan beberapa pemakai tiap-tiap minggu. Kami bereaksi pada tiap-tiap saran yang bermanfaat, hingga kami mengubah landing page kami sekitar 4x serta mengenalkan fitur-fitur produk baru.

Ini tunjukkan jika pekerjaan developer web sebetulnya belumlah tuntas saat web di luncurkan. Bila kamu memakai template dari Wix/Squarespace/Wordpress, walau template itu sangatlah baik, itu tetap harus cuma satu template. Kamu mempunyai batasan untuk bikin satu pergantian untuk mengonversi pemakai.

Bila kamu kerja dengan developer pihak ke-3 yang dengan tarif /jam, kamu akan diminta untuk pilih pada dua perihal ini:

  1. Tidak dapat menguji pergantian yang dengan berarti dapat memengaruhi konversi, atau 
  2. Membayar penambahan jam untuk satu pergantian yang kamu sendiri belumlah meyakini akan berefek banyak pada tujuan akhir. 
Satu perihal terpenting yang saya tekuni mengenai pergantian produk serta tes A/B, dengan fundamental, ini ialah satu permainan yang seru. Kamu akan tidak tahu apa yang akan membawa efek paling besar buat angka konversi terkecuali kamu mengujinya.

Jadi, dengan tahu langkah lakukan pengujian produk, kamu dapat lakukan eksperimen feature lebih cepat serta seringkali, tiada butuh cemas pekerjaan ini akan habiskan dana operasional.

4. Mulai mengambil langkah untuk sampai tujuan serta tunggu orang yang pas

Lakukan penerimaan bukan pekerjaan yang gampang. Serta semakin lebih susah saat kamu mesti memandang apa orang itu pas dengan budaya perusahaan.

Bila team awalmu cuma berisi dua orang saja, meningkatkan anggota team akan merubah budaya perusahaan sampai lima puluh %.

Saat kamu tidak temukan orang yang dapat lakukan pekerjaan penting (seperti coding), kamu akan terasa begitu terbebani untuk selekasnya temukan orang yang pas. Serta desakan itu dapat mengakibatkan kamu membuat ketetapan yang tidak maksimal.

Bila kamu miliki potensi coding, kamu dapat lepas dari desakan itu serta menanti waktu yang pas untuk mengambil calon yang betul-betul sama dengan budaya perusahaan.

5. Saat bicara dalam bahasa yang sama, mungkin satu jalinan bisa menjadi lebih baik


Di banyak perusahaan, baik di bagian tehnologi ataupun bukan, terdapat beberapa sela miskomunikasi yang muncul cuma sebab seorang tidak mengerti pekerjaan partnernya.

Saat saya kerja di perusahaan hukum, beberapa pengacara menyalahkan client mereka yang dipandang tidak mengerti jumlahnya pekerjaan yang muncul setiap saat ada keinginan masuk. Di lain sisi, beberapa client ikut menyalahkan tarif beberapa pengacara yang mereka kira sangat mahal. Saya dengar aduan sama dari rekan saya yang disebut seseorang founder tiada latar belakang tehnis. Dia menyalahkan hubungan dengan team developer.

Jadi, apakah yang akan berlangsung saat ada co-founder nonteknis coba mengendalikan team tehnis dalam suatu perusahaan tehnologi? Terkecuali terdapatnya tingkat keyakinan tinggi sekali di awalnya, miskomunikasi serta perseteruan akan susah dijauhi.

Saya mengharap, dengan belajar bahasa pemrograman, saya bisa memperantai ketimpangan komunikasi itu.

6. Bila kita masih tetap bertahan ini hari, kita masih tetap miliki peluang untuk sukses

Ini ialah point yang begitu jelas, dan membawa efek yang sangat riil buat kelangsungan hidup startup kami.

Sebelum saya akan memutuskan belajar coding, kami memetakan tagihan yang kami temukan dari beberapa developer web. Tagihan-tagihan itu sekitar dari S$30.000 sampai S$50.000 (seputar Rp312 juta sampai Rp520 juta) untuk membuat website basic, di luar dari pembaruan-pembaruan sesudah web di luncurkan.

Bukti simpel yang lain ialah umumnya startup tidak berhasil sebab kehabisan dana. Dengan mengirit dana sebesar S$50.000 (seputar Rp520 juta) itu dapat perpanjang hidup startup kita sampai satu tahun kembali. Serta siapa yang tahu perihal mengagumkan apa yang dapat berlangsung satu tahun lalu?

Tanpa pengetahuan coding untuk bangun produk saya sendiri, rasa-rasanya seperti pergi ke ajang pertempuran dengan satu tangan terikat, serta bertumpu pada seorang lainnya untuk memenangi pertempuran. Tetapi bukan langkah tersebut yang saya kehendaki saat mesti terjun ke medan perang.

Sun Tzu menjelaskannya dengan prima:”Setiap pertarungan telah dimenangkan sebelum berlangsung.”

Mudah-mudahan, dengan belajar coding, bisa memberi kita peluang yang lebih baik di medan pertarungan startup yang hilang ingatan serta mengerikan ini.

Post a Comment

0 Comments