Pemerintah, beberapa investor, serta founder startup di Indonesia butuh lakukan beberapa langkah strategis untuk tingkatkan daya saing dengan beberapa pesaing di Singapura atau Silicon Valley.
Tanda-tanda baik
Ada demikian besar saluran modal yang masuk ke lingkungan startup di Indonesia. Lebih dari US$3 miliar (seputar Rp43 triliun) dana dari perusahaan modal ventura (VC) masuk ke negeri pada paruh pertama 2017 kemarin.Jumlahnya ini meliputi dua puluh % dari keseluruhan investasi yang ditanamkan VC di semua Asia Tenggara. Tingkat perkembangan investasi ikut tunjukkan angka yang tidak kalah mengesankan. Pada tahun 2012 lantas, angka investasi yang di terima Indonesia cuma sebesar US$44 juta (Rp431 miliar).
Deretan unicorn dari Indonesia ikut terlihat menonjol. Tokopedia, GO-JEK, serta Traveloka masuk dalam rincian lima startup yang mendapatkan sangat banyak permodalan di Asia Tenggara.
Perusahaan modal ventura bahkan juga terlihat mengerjakan pasar dalam negeri dengan cukup terlalu berlebih, dengan munculnya lusinan instansi investasi dengan modal sekurang-kurangnya US$100 juta (Rp1,4 triliun). Selain itu, deretan perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat atau Cina mulai buka kantor-kantor cabang di sejumlah negara dalam lokasi Asia Tenggara.
Indonesia satu waktu kelak butuh menggerakkan perusahaan-perusahaan besar lokal untuk mendanai usaha rintisan. Tetapi untuk sekarang ini, saluran modal di luar negeri ialah tanda-tanda yang baik.
Ikuti arus yang dibuat oleh deretan unicorn dari Indonesia, beberapa investor asing mengatakan cukuplah ketertarikan pada iklim startup dalam negeri. Kredibilitas beberapa founder startup yang terima saluran investasi ikut juga bertambah, bersamaan suport dari beberapa brand internasional.
Suport ini pula tingkatkan keyakinan diri beberapa founder untuk menguber beberapa ide baru. Mereka tak akan cemas akan kesusahan menggalang dana step awal, hingga dapat konsentrasi membuat gagasan usaha semasing.
Meskipun begitu, deretan rintangan masih tetap batasi kekuatan yang dipunyai beberapa founder itu. Baik pemerintah, investor, serta mereka sendiri miliki peranan semasing untuk memecahkannya.
Rintangan yang butuh dipecahkan
Berikut selangkah yang bisa menolong ekosistem startup di Indonesia mencapai kekuatan penuhnya.1. Deregulasi ketentuan pemerintah
Walau beberapa founder serta investor semangat untuk menggerakkan ekosistem startup Indonesia lebih jauh kembali, suport pemerintah dalam negeri belumlah sekuat apakah yang berlangsung di Singapura. Suport pemerintah negara itu membuat Singapura sekarang miliki ekonomi tehnologi sangat maju se-Asia Tenggara.Pemerintah Indonesia sebetulnya sudah mengerti kekuatan yang dimilikinya (Presiden Joko Widodo bahkan juga sempat bertandang ke Silicon Valley untuk memperoleh ide dan membujuk golongan diaspora disana untuk membawa pengembangannya ke tanah air). Tetapi, supaya ekosistem startup dalam negeri dapat betul-betul berkembang, pemerintah mesti singkirkan aturan-aturan yang menghalangi perkembangan.
Besaran pajak yang tinggi ialah salah satunya penghalang. Laba investasi dikenai pajak dengan tarif sampai 25 %. Masyarakat negara asing yang negaranya tidak tercakup dalam kesepakatan pajak dengan Indonesia mesti membayar pajak lima % berdasar hasil penjualan asset kepunyaannya di negeri.
Menjadi perbandingan, Singapura serta Malaysia benar-benar tidak menetapkan pajak atas laba investasi. Indonesia butuh mencontoh mereka. Benar terdapatnya jika startup di Indonesia pada sekarang ini alami dikit kesusahan waktu menggalang dana. Tetapi dalam periode panjang, memberi dukungan beberapa investor bisa tingkatkan iklim investasi untuk ekosistem startup tanah air.
Pemerintah Indonesia ikut butuh membahas lagi aturan-aturan yang batasi kepemilikan asing dengan ketat, yang pada sekarang ini telah memberikan efek jelek pada industri startup.
Baru saja ini, Bank Indonesia batasi bagian kepemilikan asing sebesar 49 % pada suatu usaha penyedia service uang elektronik. Ketentuan nampaknya membuat Grab serta GO-JEK kesusahan mendapatkan lisensi sah untuk menjalankan service uang elektronik semasing.
Lebih buruknya kembali, lobi-lobi dari beberapa pemain lokal bahkan juga menggerakkan pemerintah untuk semakin memperketat ketentuan kepemilikan asing di lingkungan startup.
Indonesia ikut ambil sikap konservatif dalam mengambil keputusan ketentuan pembiayaan usaha. Sejumlah besar type utang membutuhkan agunan, yang tidak dipunyai oleh hampir semua startup tehnologi. Jalan keluar yang diaplikasikan Singapura serta Inggris mungkin dapat dicontoh, dimana semasing pemerintah tawarkan deretan type hibah serta utang pada beberapa startup.
2. Peningkatan tenaga tehnis
Keadaan ekosistem startup Indonesia masih tetap berbeda. Terdapat beberapa beberapa ide bagus, tetapi cuma dikit team yang dapat menerapkannya.Beberapa founder startup berpotensi dari Indonesia sudah bangun unicorn atau menempati jabatan berprestise di beberapa startup papan atas, tetapi umumnya dari mereka tetap harus mengambil team tehnis di luar negeri sebab tidak ada di tanah air. Temukan CTO yang pas ikut cukuplah susah, sebab umumnya developer sangat berpotensi telah keburu diambil oleh unicorn atau perusahaan besar terlebih dulu.
Meningkatkan generasi developer lokal ialah peranan pemerintah. Beberapa pemimpin bangsa butuh mendanai pelatihan, pertandingan, serta beasiswa berkaitan tehnologi untuk menarik minat beberapa pelajar supaya tekuni bagian tehnis.
Di Singapura, program pemerintah seperti SkillsFuture memberi kursus pada beberapa masyarakatnya untuk pelajari ketrampilan yang tengah dicari pasar. Program semacam ini pastikan jika negara itu mempunyai tenaga kerja yang bersaing di semua dunia.
Gagasan Google untuk melatih seratus ribu developer dalam negeri sampai tahun 2020 bisa menolong permasalahan tersedianya tenaga tehnis di Indonesia. Sesudah itu, pemerintah butuh pimpin usaha peningkatan bakat lokal.
3. Bangun infrastruktur tehnologi
Konektivitas begitu penting. Walau Jakarta serta Yogyakarta mempunyai ekosistem startup yang mempesona, sejumlah besar lokasi Indonesia belumlah mempunyai akses yang htangguh ke ranah tehnologi.Penetrasi smartphone, hp, serta paket data seluler di harga dapat dijangkau memang selalu bertambah. Tetapi negara ini masih tetap mempunyai populasi yang belumlah terjamah oleh service perbankan, serta mungkin baru dapat nikmati service bank dan mempunyai hp pada satu atau dua generasi selanjutnya.
Menghubungkan pulau-pulau di Indonesia dengan kabel serat optik ialah langkah awal yang terpenting untuk menangani ketimpangan ini.
4. Tingkatkan iklim investasi
Pada sekarang ini, permodalan yang berlangsung condong di pimpin oleh beberapa investor. Startup membutuhkan eksposur lebih luas pada perusahaan-perusahaan sukses yang mendapatkan investasi dan semakin banyak peluang untuk belajar bagaimana mereka memperolehnya.Biaya punya perusahaan modal ventura Indonesia ikut condong berharga lumayan besar (lebih dari US$100 juta atau Rp1,4 triliun). Membuat instansi investasi yang lebih kecil bisa saja langkah bagus untuk menggerakkan perubahan startup baru, yang sejumlah besar mencari permodalan di rata-rata US$500.000 (Rp7 miliar).
Sebab konsentrasi VC yang tengah berupaya isi sela permodalan Seri B (dan pendekatan meminimalisir resiko yang diambil oleh beberapa investor beberapa waktu akhir-akhir ini), pendanaan-pendanaan dengan nominal lebih kecil ini berkesempatan mencapai peluang menarik.
5. Lakukan lokalisasi
Selanjutnya, semua bergantung apa beberapa founder dapat menggerakkan ekosistem startup Indonesia supaya semakin maju, atau justru mematikannya. Deretan unicorn dari Indonesia sudah menggebrak maju dengan kecepatan yang mengagumkan, tetapi sebagian besar startup yang lain belumlah sampai level yang berada di Singapura atau Silicon Valley.Waktu suport kursus serta finansial dari pemerintah belumlah datang, beberapa founder startup bisa memelopori gerakan ini.
Beberapa founder lokal miliki potensi mengidentifikasi jalan keluar di luar negeri untuk diadaptasikan di tanah air. Mereka butuh memperhitungkan populasi Indonesia yang sejumlah besar serta mempunyai tingkat sosial berlainan, dan lakukan lokalisasi supaya beberapa pemakai terasa tidak asing dengan produk yang di tawarkan.
Jadi, apa ekosistem startup di Indonesia sangat dibesar-besarkan? Benar-benar tidak.
Tetapi supaya bisa penuhi harapan beberapa investor, baik pemerintah, beberapa pemodal, dan founder startup butuh sesuaikan taktik semasing. Bila mereka mengerjakannya, Jakarta akan mempunyai tempat yang sama dengan Singapura serta Silicon Valley menjadi salah satunya pemimpin startup kelas dunia.



0 Comments